Menjadi preman jauh lebih mudah daripada menjadi orang beriman. Kalimat yang tidak asing ditelinga ini bisa jadi merupakan kalimat bertuah, yang selalu benar untuk segala zaman. Keshahihan ungkapan ini mudah ditelusuri dengan sedikit meluangkan waktu membuka buku-buku sejarah, betapa kebaikan yang diserukan oleh satu orang ditentang habis-habisan secara berjama'ah oleh masyarakatnya. Hal ini biasa dialami oleh para nabi, ulama, atau penyeru agama. Sebaliknya, untuk menjadi seorang "brandalan" rumusnya sederhana, cuek plus sedikit nakal.
Fenomena sekeliling juga memaparkan hal demikian. Seorang wanita yang berjalan mengenakan jilbab besar plus cadarnya dengan wanita yang mengenakan pakaian super sexy akan sama-sama mendapat perhatian lebih dari yang melihatnya, letak perbedaannya adalah raut muka yang memandang. Yang satu akan di pandang dengan kernyitan dahi dan di anggap fanatik, sedangkan yang satunya lagi di pandang dengan wajah sumringah dan di labeli wanita trendy. Karenanya, menjadi wanita yang konsisten menutupi aurat bukan perkara ringan kalau tidak terbiasa sejak kecil, apalagi jika merasa diri memiliki fisik yang cukup menarik, rambut indah berkilau, leher panjang nan putih, telinga nan elok. Sebaliknya, menjadi wanita yang suka bereksperimen dengan penampilannya akan sangat mudah karena adanya dukungan berbagai kosmetik atau aneka penghias lainnya yang gencar-gencarnya dipromosikan. Ditambah lagi dukungan fashion dengan berbagai model, yang hampir semuanya mengeksploitasi satu atau lebih bagian vital wanita. Maka jadilah orang-orang yang ingin dikatakan trendy itu tidak ada bedanya dengan pragawati, hanya saja jalannya bukan di cat walk tapi di jalan raya, atau bahkan gang-gang sempit. Di semua tempat fenomena demikian akan kita jumpai dengan mudah, kecuali di masjid, yang sedikit lebih dihormati. Tetapi penghormatan itu pun tidak selamanya berlaku, lihatlah kebiasaan sebagian muslimah ketika hendak shalat tarawih di bulan ramadhan, datang ke masjid berpakaian yang lebih layak di gunakan ke pantai daripada pergi ke masjid, semua serba mini. Belum lagi menjadikan masjid sebagai tempat pacaran yang dipandang aman, karena insyaallah sedikit terhindar dari kecurigaan orang lain.
Kalau ingin bukti, silakan datang ke Masjid Syuhada Yogyakarta. Masjid ini paling mashur seantero Yogyakarta karena sejarahnya yang panjang dan telah melahirkan banyak tokoh nasional. Tapi jangan kira, karena masjid ini telah menjadi kebanggaan masyarakatnya, lantas nihil dari tangan-tangan jahil. Kalau anda berkunjung malam hari, dan kebetulan sedang beruntung, jangan tercengang kalau melihat muda-muda saling pangku di beranda masjid. Setelah bosan berpangku-pangku ria, mereka segera ke kamar mandi, saking romantisnya satu kamar mandi dipakai berdua. Apa yang mereka lakukan di dalam? Tanya sendiri kalau anda ketemu. Atau silakan tanya pada takmirnya yang kini sudah merasa mulai terbiasa melihat tontonan itu dan mengaku menyerah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Nekat, mungkin itulah kata yang paling pas untuk muda-mudi seperti ini. Untuk mereka yang mungkin sedikit menaruh hormat kepada masjid tapi tidak kuasa menahan hawa nafsu, maka alternatif tempat akan segera terpikir. Kuburan misalnya. Malam tahun baru 2009 ini, organisasi tempat penulis bernaung selama ini melakukan penggerebekan ke tempat-tempat yang di duga dijadikan tempat mesum. "Perburuan" kali ini membuahkan hasil. Di satu pekuburan Cina yang terletak tak jauh dari pabrik gula Madukismo, aksi percintaan yang kurang berimbang sedang berlangsung. Seorang cewek di "santap" ramai-ramai oleh enam orang cowok. Anak-anak yang baru kelas satu SMA ini mengaku melakukan semua itu karena suka-sama suka. Kendati prianya enam orang, anak perempuan itu mengaku fine-fine saja, karena memang doyan dan tidak merasa cukup dengan satu lelaki.
Sengaja saya sodorkan dua contoh di dua tempat yang berbeda. Karena kedua tempat ini tidak lumrah dijadikan tempat membuang hajat nafsu birahi, kendati melakukan hal serupa di tempat-tempat terbuka lainnya juga tetap tidak bisa dibenarkan. Pertanyaan yang muncul, kalau tempat seperti masjid dan kuburan saja sudah dijadikan tempat mesum, lantas bagaimana dengan tempat lain?
Perilaku-perilaku mesum dan dilakukan di tempat-tempat yang tidak lumrah seperti di atas, bagi sebagian orang tentu aneh dan menyesakkan dada, tapi bagi sebagian orang menjadi hal biasa lantaran setiap hari disuguhkan pemandangan serupa, bahkan berdo'a semoga kian hari kian banyak orang yang berbuat mesum, dengan begitu rejekinya juga kian bertambah. Yang biasanya berdo'a demikian adalah pemiliki warung remang-remang, internet mesum, salon plus-plus, pondok-pondok wisata, dan masih banyak lagi.
Semua ketidak-beresan itu terbingkai apik menjadi kebiasaan yang lumrah dan tidak ada lagi yang merasa aneh. Padahal kalau kita punya standar yang jelas dalam menilai apa yang banyak terjadi di tengah masyarakat, maka kita akan terhenyak, melihat fenomena yang lucu sekligus menyesakkan dada.
Alotnya pengesahan RUU APP adalah contoh nyata betapa susahnya mengeluarkan regulasi yang dapat melindungi wanita dan anak-anak. Alasannya, kalau RUU itu di syahkan maka akan terjadi pemasungan terhadap kebebasan berekspresi, dan bangsa yang tidak bebas dalam berekspresi adalah bangsa yang tidak akan pernah maju. Padahal, pertama, belum pernah terbukti dalam sejarah bahwa merajalelanya perilaku porno masyarakat dapat mendorong kemajuan suatu bangsa. Justru sebaliknya, kebebasan bergaul tanpa batas telah mendorong lahirnya berbagai krisis moral, ekonomi, politik dan krisis dalam kehidupan rumah tangga. Kemajuan bangsa-bangsa Eropa, baik dalam bidang ekonomi maupun tekhnologi, bukan di sebabkan oleh banyaknya pelacur, maraknya bisnis prostitusi, berkeliarannya wanita telanjang, maupun gencarnya freesex. Tapi karena kerja keras kaum intelektual yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan pornoaksi. Kedua, lahirnya peradaban besar dan berpengaruh di dunia ini bukan lantaran berkembangnnya pornografi, pornoaksi, tari telanjang, pelacuran, homoseks, dan berbagai kebejatan lainnya. Tapi karena munculnya para nabi, orang-orang besar, manusia-manusia terhormat dan mulia, yang membawa misi pembebasan manusia dari perbudakan hawa nafsunya. Namun anehnya sekarang, karena ingin maju, peranan nabi ingin di gusur dengan peranan pelacur. Bangsa yang aneh.
Di samping itu, pengesahan RUU dianggap akan menghapuskan budaya asli Indonesia. Numpang tanya, sebenarnya budaya asli seperti apa yang dimiliki oleh bangsa yang kita cintai ini? Pertanyaan ini penting diajukan untuk dapat mendudukkan persoalan sesuai kadarnya. H. Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka), pernah bertanya serupa, apa hakikat dan wujud konkrit kebudayaan Indonesia? Karena menurut sejarah, bangsa Indonesia berasal dari Indocina, sedangkan penduduk aslinya konon yang tersisa adalah suku Dayak di kalimantan, Badui di Banten, dan suku di Nias di Sumatera Utara, yang sampai sekarang hidupnya tidak berubah sebagai suku primitif. Maka kalau kita bicara tentang kebudayaan Indonesia asli, tak ubahnya hanya retorika fatamorgana.
Oleh karena itu, orang-orang yang menolak jilbab sebagaimana di atur pada Perda-perda Antimaksiat, semestinya mengenakan koteka untuk pakaian kerja resmi. Mereka yang menolak pembatasan pergaulan lelaki perempuan bukan mahram sebagaimana di atur pada RUU APP yang kini telah disahkan itu, mestinya mengikhlaskan istrinya ditiduri tamunya, sebagai penghormatan sebagaimana yang terjadi pada komunitas tertentu di suku Dayak.
Hal lain yang selalu dilontarkan oleh orang-orang yang menolak RUU APP itu adalah isu Arabisme atau berbau Arab yang hanya menguntungkan etnis Arab. Padahal sebenarnya bangsa Arab sendiri tidak mengenal budaya jilbab untuk pakaian perempuan, karena mereka dahulu berpenampilan seperti wanita Barat sekarang. Dan bebas bergaul lelaki perempuan seperti masyarakat Barat sekarang. Sehingga pelacuran dan melacurkan diri dianggap lebih trendy daripada menjadi istri, lebih mulia jadi janda daripada di poligami.
Ulasan di atas merupakan sekelumit gambaran betapa pemerintah merupakan pihak paling bertanggung jawab atas tumbuh suburnya freesex yang hampir-hampir jadi budaya. Atau dalam bahasa agak provokatifnya, pemerintahlah yang paling berperan dalam rangka melacurkan generasi bangsa. Selain pemerintah, masih banyak elemen lain yang berandil besar dalam melacurkan generasi bangsa. Orang tua diantaranya. Orang tua kini kebanyakan terkena penyakit "sindrom anak ndak laku", apalagi kalau di kepala orang tua ada pikiran "anak saya cantik kalau seksi". Penyakit "sindrom anak ndak laku" rupanya klop dengan anggapan "anak saya cantik kalau tampil seksi", sehingga bagi orang tua-orang tua yang takut anaknya tidak dapat jodoh maka anak lah yang disesatkan. Anak di suruh tampil seksi, bahkan agak sronok pun tidak apa-apa, yang penting kalau di lihat bikin orang tergiur. Yang lebih aneh lagi, kebanyakan orang tua kini mengukur prestise dirinya dari seberapa banyak pria yang menyambangi anaknya.
Kalau pun bukan orang tua yang berpikir "gila" seperti itu, anaklah yang susah di bendung. Orang tua sudah mewanti-wanti agar anaknya menjaga penampilan dengan menutup aurat, tapi anaklah yang susah di atur. Mengapa demikian? Tentu banyak faktor yang mempengaruhi. Di samping karena pergaulan dan naluriah ingin mempertontonkan keindahan tubuh, pikiran anak tentu sama dengan orang tua, yaitu ingin dapat jodoh. Namun cara yang di pakai tentu keliru.
Artinya, telah terjadi penyesatan paradigma. Bahwa kalau ingin dapat johoh, ya harus agresif. Berbagai metode pun di tempuh, mulai dari suara yang di buat kemayu-kemayu, aurat di buka selebar-lebarnya, sampai dengan memberikan kehormatannya asalkan pacarnya senang, sehingga tidak berpikir untuk meninggalkan dirinya.
Fenomena sekeliling juga memaparkan hal demikian. Seorang wanita yang berjalan mengenakan jilbab besar plus cadarnya dengan wanita yang mengenakan pakaian super sexy akan sama-sama mendapat perhatian lebih dari yang melihatnya, letak perbedaannya adalah raut muka yang memandang. Yang satu akan di pandang dengan kernyitan dahi dan di anggap fanatik, sedangkan yang satunya lagi di pandang dengan wajah sumringah dan di labeli wanita trendy. Karenanya, menjadi wanita yang konsisten menutupi aurat bukan perkara ringan kalau tidak terbiasa sejak kecil, apalagi jika merasa diri memiliki fisik yang cukup menarik, rambut indah berkilau, leher panjang nan putih, telinga nan elok. Sebaliknya, menjadi wanita yang suka bereksperimen dengan penampilannya akan sangat mudah karena adanya dukungan berbagai kosmetik atau aneka penghias lainnya yang gencar-gencarnya dipromosikan. Ditambah lagi dukungan fashion dengan berbagai model, yang hampir semuanya mengeksploitasi satu atau lebih bagian vital wanita. Maka jadilah orang-orang yang ingin dikatakan trendy itu tidak ada bedanya dengan pragawati, hanya saja jalannya bukan di cat walk tapi di jalan raya, atau bahkan gang-gang sempit. Di semua tempat fenomena demikian akan kita jumpai dengan mudah, kecuali di masjid, yang sedikit lebih dihormati. Tetapi penghormatan itu pun tidak selamanya berlaku, lihatlah kebiasaan sebagian muslimah ketika hendak shalat tarawih di bulan ramadhan, datang ke masjid berpakaian yang lebih layak di gunakan ke pantai daripada pergi ke masjid, semua serba mini. Belum lagi menjadikan masjid sebagai tempat pacaran yang dipandang aman, karena insyaallah sedikit terhindar dari kecurigaan orang lain.
Kalau ingin bukti, silakan datang ke Masjid Syuhada Yogyakarta. Masjid ini paling mashur seantero Yogyakarta karena sejarahnya yang panjang dan telah melahirkan banyak tokoh nasional. Tapi jangan kira, karena masjid ini telah menjadi kebanggaan masyarakatnya, lantas nihil dari tangan-tangan jahil. Kalau anda berkunjung malam hari, dan kebetulan sedang beruntung, jangan tercengang kalau melihat muda-muda saling pangku di beranda masjid. Setelah bosan berpangku-pangku ria, mereka segera ke kamar mandi, saking romantisnya satu kamar mandi dipakai berdua. Apa yang mereka lakukan di dalam? Tanya sendiri kalau anda ketemu. Atau silakan tanya pada takmirnya yang kini sudah merasa mulai terbiasa melihat tontonan itu dan mengaku menyerah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Nekat, mungkin itulah kata yang paling pas untuk muda-mudi seperti ini. Untuk mereka yang mungkin sedikit menaruh hormat kepada masjid tapi tidak kuasa menahan hawa nafsu, maka alternatif tempat akan segera terpikir. Kuburan misalnya. Malam tahun baru 2009 ini, organisasi tempat penulis bernaung selama ini melakukan penggerebekan ke tempat-tempat yang di duga dijadikan tempat mesum. "Perburuan" kali ini membuahkan hasil. Di satu pekuburan Cina yang terletak tak jauh dari pabrik gula Madukismo, aksi percintaan yang kurang berimbang sedang berlangsung. Seorang cewek di "santap" ramai-ramai oleh enam orang cowok. Anak-anak yang baru kelas satu SMA ini mengaku melakukan semua itu karena suka-sama suka. Kendati prianya enam orang, anak perempuan itu mengaku fine-fine saja, karena memang doyan dan tidak merasa cukup dengan satu lelaki.
Sengaja saya sodorkan dua contoh di dua tempat yang berbeda. Karena kedua tempat ini tidak lumrah dijadikan tempat membuang hajat nafsu birahi, kendati melakukan hal serupa di tempat-tempat terbuka lainnya juga tetap tidak bisa dibenarkan. Pertanyaan yang muncul, kalau tempat seperti masjid dan kuburan saja sudah dijadikan tempat mesum, lantas bagaimana dengan tempat lain?
Perilaku-perilaku mesum dan dilakukan di tempat-tempat yang tidak lumrah seperti di atas, bagi sebagian orang tentu aneh dan menyesakkan dada, tapi bagi sebagian orang menjadi hal biasa lantaran setiap hari disuguhkan pemandangan serupa, bahkan berdo'a semoga kian hari kian banyak orang yang berbuat mesum, dengan begitu rejekinya juga kian bertambah. Yang biasanya berdo'a demikian adalah pemiliki warung remang-remang, internet mesum, salon plus-plus, pondok-pondok wisata, dan masih banyak lagi.
Semua ketidak-beresan itu terbingkai apik menjadi kebiasaan yang lumrah dan tidak ada lagi yang merasa aneh. Padahal kalau kita punya standar yang jelas dalam menilai apa yang banyak terjadi di tengah masyarakat, maka kita akan terhenyak, melihat fenomena yang lucu sekligus menyesakkan dada.
Alotnya pengesahan RUU APP adalah contoh nyata betapa susahnya mengeluarkan regulasi yang dapat melindungi wanita dan anak-anak. Alasannya, kalau RUU itu di syahkan maka akan terjadi pemasungan terhadap kebebasan berekspresi, dan bangsa yang tidak bebas dalam berekspresi adalah bangsa yang tidak akan pernah maju. Padahal, pertama, belum pernah terbukti dalam sejarah bahwa merajalelanya perilaku porno masyarakat dapat mendorong kemajuan suatu bangsa. Justru sebaliknya, kebebasan bergaul tanpa batas telah mendorong lahirnya berbagai krisis moral, ekonomi, politik dan krisis dalam kehidupan rumah tangga. Kemajuan bangsa-bangsa Eropa, baik dalam bidang ekonomi maupun tekhnologi, bukan di sebabkan oleh banyaknya pelacur, maraknya bisnis prostitusi, berkeliarannya wanita telanjang, maupun gencarnya freesex. Tapi karena kerja keras kaum intelektual yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan pornoaksi. Kedua, lahirnya peradaban besar dan berpengaruh di dunia ini bukan lantaran berkembangnnya pornografi, pornoaksi, tari telanjang, pelacuran, homoseks, dan berbagai kebejatan lainnya. Tapi karena munculnya para nabi, orang-orang besar, manusia-manusia terhormat dan mulia, yang membawa misi pembebasan manusia dari perbudakan hawa nafsunya. Namun anehnya sekarang, karena ingin maju, peranan nabi ingin di gusur dengan peranan pelacur. Bangsa yang aneh.
Di samping itu, pengesahan RUU dianggap akan menghapuskan budaya asli Indonesia. Numpang tanya, sebenarnya budaya asli seperti apa yang dimiliki oleh bangsa yang kita cintai ini? Pertanyaan ini penting diajukan untuk dapat mendudukkan persoalan sesuai kadarnya. H. Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka), pernah bertanya serupa, apa hakikat dan wujud konkrit kebudayaan Indonesia? Karena menurut sejarah, bangsa Indonesia berasal dari Indocina, sedangkan penduduk aslinya konon yang tersisa adalah suku Dayak di kalimantan, Badui di Banten, dan suku di Nias di Sumatera Utara, yang sampai sekarang hidupnya tidak berubah sebagai suku primitif. Maka kalau kita bicara tentang kebudayaan Indonesia asli, tak ubahnya hanya retorika fatamorgana.
Oleh karena itu, orang-orang yang menolak jilbab sebagaimana di atur pada Perda-perda Antimaksiat, semestinya mengenakan koteka untuk pakaian kerja resmi. Mereka yang menolak pembatasan pergaulan lelaki perempuan bukan mahram sebagaimana di atur pada RUU APP yang kini telah disahkan itu, mestinya mengikhlaskan istrinya ditiduri tamunya, sebagai penghormatan sebagaimana yang terjadi pada komunitas tertentu di suku Dayak.
Hal lain yang selalu dilontarkan oleh orang-orang yang menolak RUU APP itu adalah isu Arabisme atau berbau Arab yang hanya menguntungkan etnis Arab. Padahal sebenarnya bangsa Arab sendiri tidak mengenal budaya jilbab untuk pakaian perempuan, karena mereka dahulu berpenampilan seperti wanita Barat sekarang. Dan bebas bergaul lelaki perempuan seperti masyarakat Barat sekarang. Sehingga pelacuran dan melacurkan diri dianggap lebih trendy daripada menjadi istri, lebih mulia jadi janda daripada di poligami.
Ulasan di atas merupakan sekelumit gambaran betapa pemerintah merupakan pihak paling bertanggung jawab atas tumbuh suburnya freesex yang hampir-hampir jadi budaya. Atau dalam bahasa agak provokatifnya, pemerintahlah yang paling berperan dalam rangka melacurkan generasi bangsa. Selain pemerintah, masih banyak elemen lain yang berandil besar dalam melacurkan generasi bangsa. Orang tua diantaranya. Orang tua kini kebanyakan terkena penyakit "sindrom anak ndak laku", apalagi kalau di kepala orang tua ada pikiran "anak saya cantik kalau seksi". Penyakit "sindrom anak ndak laku" rupanya klop dengan anggapan "anak saya cantik kalau tampil seksi", sehingga bagi orang tua-orang tua yang takut anaknya tidak dapat jodoh maka anak lah yang disesatkan. Anak di suruh tampil seksi, bahkan agak sronok pun tidak apa-apa, yang penting kalau di lihat bikin orang tergiur. Yang lebih aneh lagi, kebanyakan orang tua kini mengukur prestise dirinya dari seberapa banyak pria yang menyambangi anaknya.
Kalau pun bukan orang tua yang berpikir "gila" seperti itu, anaklah yang susah di bendung. Orang tua sudah mewanti-wanti agar anaknya menjaga penampilan dengan menutup aurat, tapi anaklah yang susah di atur. Mengapa demikian? Tentu banyak faktor yang mempengaruhi. Di samping karena pergaulan dan naluriah ingin mempertontonkan keindahan tubuh, pikiran anak tentu sama dengan orang tua, yaitu ingin dapat jodoh. Namun cara yang di pakai tentu keliru.
Artinya, telah terjadi penyesatan paradigma. Bahwa kalau ingin dapat johoh, ya harus agresif. Berbagai metode pun di tempuh, mulai dari suara yang di buat kemayu-kemayu, aurat di buka selebar-lebarnya, sampai dengan memberikan kehormatannya asalkan pacarnya senang, sehingga tidak berpikir untuk meninggalkan dirinya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar