Pesta kembang api tergelar menggelegar berpanjang-panjang siang dan malam, menghentak-hentak bumi Gaza di Tanah Palestina, menyambut tutup tahun dan menghampiri tahun baru. Bala tentara zionis Israel berkendara jet-jet tempur F5 dan F16 dengan pongahnya melakukan “atraksi” membelah langit, menyeruak awan putih di kejauhan, dan memuntahkan bom-bom bubuk fosfor putih – sebuah usaha melakukan genoside menghabisi warga Palestina dan keturunannya bahkan hingga anak-anak berusia nol tahun. Percik api tidak saja membelah dan memporak-porandakan bumi Palestina, tapi juga membangunkan semangat api jihad bahkan sampai membangunkan Indonesia.
Tercatat 1500 warga sipil, tewas mengenaskan diberondong bom-bom berasap putih yang mematikan, di antaranya 500-anak-anak terpanggang berjumpalitan dibombardir dengan senapan mesin – bahkan dari jarak yang sangat dekat. Korban-korban berjatuhan jangan harap lagi bakal bisa dikenali, beberapa gelintir di antaranya menyisakan hidup cacat sepanjang hayat. Dan teriakan “Albaqa Lillah” terdengar membahana menembus cakrawala, mengantarkan para syuhada menghadap kepadaNya. Kata-kata yang mengingatkan orang Indonesia manakala tertimpa musibah atau cobaan, dengan mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”.
Inilah periwayatan pembantaian paling keji sepanjang sejarah Israel, sejak kaum zionis yang menumpang di tanah Palestina malah mengusir orang-orang Palestina dari negerinya secara sangat kasar, bahkan dengan todongan senjata pada tahun 1948 – yang lagi terulang kali ini -- (pembantaian) yang menghabiskan biaya Rp 4,7 miliar perhari. Terkalkulasikan sudah Rp 100 milyar lebih dana yang dimuntahkan hanya diperuntukkan melakukan genoside, menghabisi “warga Palestina saja” sepanjang 21 hari..
Benarlah apa kata Al-Qur’an tentang bangsa Israel, yang terekam lewat pokal dan jejak kebiadaban bala tentaranya. Seranta menyepelekan siapa saja, termasuk majikannya, burung-burung besi dan lempengan tembaga berisi amunisi bala tentara Israel itu bahkan meluluhlantakkan sebuah areal kompleks Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurusi pengungsi Palestina (UNRWA). Gudang-gudang perbekalan berisi ratusan ton obat-obatan dan bantuan makanan itu dilumatkan rata dengan tanah.
Bahkan sebuah sekolah UNRWA di bawah payung PBB – organisasi kelas dunia yang memang sudah tak berwibawa, yang dikendalikan Paman Sam, dan tak lagi (pernah) dianggap “bermuatan” oleh Israel – juga dibombardir bala satuan komando khusus Israel, dan menewaskan 43 warga sipil – hanya lantaran mereka bernama “orang-orang Palestina”. “Pokoknya, Israel tak kan aman selama Hamas masih berkuasa,” kata Avigdor Lieberman, pemimpin Yisrael Beitenu, partai oposisi berhalaun paling ultra kanan di Tel Aviv, menyalahkan pemerintah Hamas yang memenangkan pemilu Palestina. Waduh…rek…repotnya. Ssekali lagi ini menunjukkan kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an tentang bangsa Israel….
Seperti mendendangkan semangat balas dendam terhadap kejahatan Nazi di masa lalu, yang mengingatkan pasukan Adolf Hitler menghabisi Yahudi-yahudi tengik di seantero jagat di Jerman, juga di Rusia dan pinggiran jagat lain yang amis, kini bala tentara Israel “termotivasi” melakukan hal yang sama terhadap rakyat kecil yang tak bersenjata dan lemah, hanya karena mereka bernama ‘’warga Palestina”, sementara pada waktu yang sama menjilati George Bush dari negara super power – seorang Bos sok yang kalap dengan kekuasaaan dan darah, yang meneriakkan “perang salib”, dan terjungkalkan menjadi orang yang paling dihinakan hanya oleh lemparan sepasang sepatu seorang juru warta. Wajahnya yang seperti sengaja ditiru dan dibuat bopeng, sejak itu, dijadikan mainan yang dipermainkan oleh siapa saja bahkan boleh jadi juga oleh kanak-kanak korban genoside Israel di jalur Gaza.
Pembantaian anak beranak seketurunan bangsa Palestina yang direstui seorang Bush ‘’yang nggedebus” itu sampailah pada titik nadir, tatkala bala tentara Israel diperharuskan mematuhi perintah tuannya (yang baru), dipaksa menarik pasukannya sejengkal di luar jalur Gaza, menjelang Barack Hussein Obama, si kulit hitam pertama, di lantik sebagai Presiden Ameriksa Serikat yang ke 44 pada 20 Januari lalu.
Namun hanya sejengkal saja tank-tank Israel parkir di luar Gaza, menunggu jeda selang waktu yang ditetapkan secara sepihak, pula sekalian menunggu apa kata dikata Presiden Barack Hussein Obama. Dengan pongah Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni menyatakan, “Hanya evaluasi tentara Israel di lapangan lah yang bisa menentukan kapan perang akan berakhir,’’ seperti membandel melaporkan kepada majikannya. Dan dengan berpesta kembang api terus dikibaskan dengan disemangati kelompok garis keras dari Tanah Zionis, yang bahkan mengajukan “gagasan setan” agar menjatuhkan bom nuklir di Gaza sebagaimana Amerika Serikat telah ampuh menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki di Jepang mengakhiri Perang Dunia II. Sebuah ajakan berbau setan yang tak tepermanai dan tak dapat pula diterima oleh siapa saja.
Dan tengoklah, yang terjadi kemudian, Barry Hussein Obama, anak seorang pejuang Islam dari Kenya, yang di masa kecilnya pernah berstatus sebagai siswa yang beragama Islam manakala bersekolah di Jakarta, dalam acara pelantikannya sebagai Presiden Ameriksa Serikat, beberapa kali menyebut kata muslim dan mengingatkan bahwa negara super power itu akan membangun kerjasama dan menciptakan dunia yang damai dengan kekuatan Islam. Kendati tak secara spesifik menyebut genoside Gaza, Presiden Hussein Obama menyatakan segera menjadikan persoalan di Timur Tengah sebagai prioritas tugas yang segera bakal dikerjakannya, seraya menarik pasukan AS dari bumi Irak dan pula memperjuangkan perdamaian di Afghanistan.Jalan baru tengah coba dikuak dari seorang kulit hitam bernamakan Barry Hussein Obama. Akankah sang Presiden berkulit hitam, yang sangat paham masyarakat dan bangsa berpahamkan Islam, yang memang punya latar Islam, yang kini menjadi orang nomor wahid dari negara super power yang sangat berkuasa, mampu keluar menyeruak menyelesaikan segala persoalan yang menimpa masyarakat Islam, negara Islam dan segala yang berbau Islam – yang selama ini distigmakan dinegasikan, tinggal sang waktu jika peluang sudah menunggu. Menunggu menggunakan nuranimu, untuk sebuah dunia yang damai. Where there is will, there is away. Gaza dan dunia yang damai adalah tanah (dunia) yang dijanjikan, sebagai rahmatan lil’alamien. Wallahu musta’an.
Tercatat 1500 warga sipil, tewas mengenaskan diberondong bom-bom berasap putih yang mematikan, di antaranya 500-anak-anak terpanggang berjumpalitan dibombardir dengan senapan mesin – bahkan dari jarak yang sangat dekat. Korban-korban berjatuhan jangan harap lagi bakal bisa dikenali, beberapa gelintir di antaranya menyisakan hidup cacat sepanjang hayat. Dan teriakan “Albaqa Lillah” terdengar membahana menembus cakrawala, mengantarkan para syuhada menghadap kepadaNya. Kata-kata yang mengingatkan orang Indonesia manakala tertimpa musibah atau cobaan, dengan mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”.
Inilah periwayatan pembantaian paling keji sepanjang sejarah Israel, sejak kaum zionis yang menumpang di tanah Palestina malah mengusir orang-orang Palestina dari negerinya secara sangat kasar, bahkan dengan todongan senjata pada tahun 1948 – yang lagi terulang kali ini -- (pembantaian) yang menghabiskan biaya Rp 4,7 miliar perhari. Terkalkulasikan sudah Rp 100 milyar lebih dana yang dimuntahkan hanya diperuntukkan melakukan genoside, menghabisi “warga Palestina saja” sepanjang 21 hari..
Benarlah apa kata Al-Qur’an tentang bangsa Israel, yang terekam lewat pokal dan jejak kebiadaban bala tentaranya. Seranta menyepelekan siapa saja, termasuk majikannya, burung-burung besi dan lempengan tembaga berisi amunisi bala tentara Israel itu bahkan meluluhlantakkan sebuah areal kompleks Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurusi pengungsi Palestina (UNRWA). Gudang-gudang perbekalan berisi ratusan ton obat-obatan dan bantuan makanan itu dilumatkan rata dengan tanah.
Bahkan sebuah sekolah UNRWA di bawah payung PBB – organisasi kelas dunia yang memang sudah tak berwibawa, yang dikendalikan Paman Sam, dan tak lagi (pernah) dianggap “bermuatan” oleh Israel – juga dibombardir bala satuan komando khusus Israel, dan menewaskan 43 warga sipil – hanya lantaran mereka bernama “orang-orang Palestina”. “Pokoknya, Israel tak kan aman selama Hamas masih berkuasa,” kata Avigdor Lieberman, pemimpin Yisrael Beitenu, partai oposisi berhalaun paling ultra kanan di Tel Aviv, menyalahkan pemerintah Hamas yang memenangkan pemilu Palestina. Waduh…rek…repotnya. Ssekali lagi ini menunjukkan kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an tentang bangsa Israel….
Seperti mendendangkan semangat balas dendam terhadap kejahatan Nazi di masa lalu, yang mengingatkan pasukan Adolf Hitler menghabisi Yahudi-yahudi tengik di seantero jagat di Jerman, juga di Rusia dan pinggiran jagat lain yang amis, kini bala tentara Israel “termotivasi” melakukan hal yang sama terhadap rakyat kecil yang tak bersenjata dan lemah, hanya karena mereka bernama ‘’warga Palestina”, sementara pada waktu yang sama menjilati George Bush dari negara super power – seorang Bos sok yang kalap dengan kekuasaaan dan darah, yang meneriakkan “perang salib”, dan terjungkalkan menjadi orang yang paling dihinakan hanya oleh lemparan sepasang sepatu seorang juru warta. Wajahnya yang seperti sengaja ditiru dan dibuat bopeng, sejak itu, dijadikan mainan yang dipermainkan oleh siapa saja bahkan boleh jadi juga oleh kanak-kanak korban genoside Israel di jalur Gaza.
Pembantaian anak beranak seketurunan bangsa Palestina yang direstui seorang Bush ‘’yang nggedebus” itu sampailah pada titik nadir, tatkala bala tentara Israel diperharuskan mematuhi perintah tuannya (yang baru), dipaksa menarik pasukannya sejengkal di luar jalur Gaza, menjelang Barack Hussein Obama, si kulit hitam pertama, di lantik sebagai Presiden Ameriksa Serikat yang ke 44 pada 20 Januari lalu.
Namun hanya sejengkal saja tank-tank Israel parkir di luar Gaza, menunggu jeda selang waktu yang ditetapkan secara sepihak, pula sekalian menunggu apa kata dikata Presiden Barack Hussein Obama. Dengan pongah Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni menyatakan, “Hanya evaluasi tentara Israel di lapangan lah yang bisa menentukan kapan perang akan berakhir,’’ seperti membandel melaporkan kepada majikannya. Dan dengan berpesta kembang api terus dikibaskan dengan disemangati kelompok garis keras dari Tanah Zionis, yang bahkan mengajukan “gagasan setan” agar menjatuhkan bom nuklir di Gaza sebagaimana Amerika Serikat telah ampuh menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki di Jepang mengakhiri Perang Dunia II. Sebuah ajakan berbau setan yang tak tepermanai dan tak dapat pula diterima oleh siapa saja.
Dan tengoklah, yang terjadi kemudian, Barry Hussein Obama, anak seorang pejuang Islam dari Kenya, yang di masa kecilnya pernah berstatus sebagai siswa yang beragama Islam manakala bersekolah di Jakarta, dalam acara pelantikannya sebagai Presiden Ameriksa Serikat, beberapa kali menyebut kata muslim dan mengingatkan bahwa negara super power itu akan membangun kerjasama dan menciptakan dunia yang damai dengan kekuatan Islam. Kendati tak secara spesifik menyebut genoside Gaza, Presiden Hussein Obama menyatakan segera menjadikan persoalan di Timur Tengah sebagai prioritas tugas yang segera bakal dikerjakannya, seraya menarik pasukan AS dari bumi Irak dan pula memperjuangkan perdamaian di Afghanistan.Jalan baru tengah coba dikuak dari seorang kulit hitam bernamakan Barry Hussein Obama. Akankah sang Presiden berkulit hitam, yang sangat paham masyarakat dan bangsa berpahamkan Islam, yang memang punya latar Islam, yang kini menjadi orang nomor wahid dari negara super power yang sangat berkuasa, mampu keluar menyeruak menyelesaikan segala persoalan yang menimpa masyarakat Islam, negara Islam dan segala yang berbau Islam – yang selama ini distigmakan dinegasikan, tinggal sang waktu jika peluang sudah menunggu. Menunggu menggunakan nuranimu, untuk sebuah dunia yang damai. Where there is will, there is away. Gaza dan dunia yang damai adalah tanah (dunia) yang dijanjikan, sebagai rahmatan lil’alamien. Wallahu musta’an.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar