Kamis, 12 Februari 2009

PKS Kembali Bersensasi

Menjelang pemilu 2009 yang tinggal menghitung hari, terobosan-terobosan baru partai-partai kian terlihat guna berhasil keluar sebagai pemenang. Merekrut para artis dan dukun, menutupi jalan dengan bendera dan gambar partai, kampanye lewat sms, membesarkan-besarkan apa yang telah dilakukan untuk rakyat, melontarkan pernyataan-pernyataan panas, mengeksploitasi kemiskinan dan kebodohan warga, sampai dengan berganti ideologi, adalah diantara terobosan-terobosan itu. Semua itu tidak ada yang begitu penting disoroti. Kecuali ketika mereka menyeret-nyeret Islam sebagai komoditi kampanye, maka siapa saja boleh tampil membela karena Islam adalah milik bersama, agar tidak disalah-gunakan. Siapapun yang berani menghardik Islam, harus bersiap-siap dikritik karenanya. Sebab statemen yang salah tentang Islam sangat mungkin membingungkan umat, disamping jelas sangat berbahaya. Sehingga perlu dikritik, bukan karena dia siapa, tapi karena ia menyatakan apa tentang Islam. PKS kembali mendapat bagiannya.
Zulkiflimansyah, wakil ketua Fraksi PKS (FPKS), kembali melontarkan statemen-statemen yang jelas dia tidak tahu apa implikasinya bagi kader-kadernya dan umat Islam umumnya. Bertempat di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Senayan, Jakarta, Jumat 30 Januari 2009, Zulkiflimansyah mempertegas sikap partainya pada Pemilu 2009 mendatang. "Agar PKS bisa menempatkan orangnya di kekuasaan. Soal Syari'at Islam dan sebagainya, sudah tidak relevan lagi bagi PKS," ujar Zul, panggilan akrabnya. "Kami harus realistis. Partai kami siap berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Konstituen PDIP yang unik menjadi daya tarik utama PKS mendekati partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu." Lanjutnya.
Pernyataan Zulkiflimansyah yang merefresentasikan sikap partainya, PKS, lebih mempertontonkan sikap seorang yang tidak punya ideologi ketimbang seorang politikus. Ia lebih mempercayai ramalan politik daripada mempertahankan konstituen politiknya yang telah ada. Ramalan akan lebih maju dengan menjadi partai Nasionalis lebih diyakininya daripada tetap istiqomah menjadi partai Islam. Konsekuensinya, karena ramalah itulah belum apa-apa PKS telah berani mencampakkan Syari'at Islam.
Yang lebih aneh lagi ketika bidikan koalisi diarahkan kepada PDIP. Apakah ini berarti PKS sedang ingin menyamakan orang-orang yang tidak mengerti Islam dengan orang-orang yang mengerti Islam? Orang yang tidak mengerti kencing berdiri salah dengan orang yang mengerti Islam. Kader-kader PKS dibesarkan dalam tradisi Islam, berbeda dengan PDIP. Dua hal yang sangat fundamen inilah yang coba untuk disatukan petinggi PKS. Allah saja tidak mau menyamakan penghuni surga dengan penghuni neraka (Qs. Al Hasyr, 59: 20). Bahkan Allah menyatakan tidak patut menyamakan orang mukmin dengan orang kafir. Bukan hanya itu, menyamakan diri dengan orang kafir berarti juga telah kafir. Inilah yang terjadi dengan PKS yang menyamakan diri dengan PDIP, padahal PDIP telah dengan bangga menyatakan diri menolak syari'at. Berharap bisa menundukkan PDIP melalui koalisi itu kiranya harapan yang sangat sulit. Karena PDIP didominasi fundamentalis Kristen, yang kokoh mempertahankan kemauannya, berbeda dengan PKS yang belum apa-apa telah mengganti dasar partainya.
Masih pada kesempatan yang sama ia juga menerangkan tujuan koalisinya. Berkoalisi dengan PDIP, akan mempercepat tercapainya agenda besar PKS. Yaitu, PKS ingin mendudukkan tokoh Islam di pusat kekuasaan. Tujuannya adalah untuk memberantas radikalisme Islam. Karena siapapun yang sudah merasakan susahnya memimpin, akan mengerti betapa salahnya akar radikalisme," kata Zul.
Bila hal ini terus berlanjut maka PKS akan benar-benar kehilangan identitas. Sebab, seorang yang suka duduk bersama orang kafir pasti akan kehilangan akalnya. Apalagi kalau seorang mukmin mengatakan dapat mengambil keuntungan besar dari orang kafir, berarti mereka telah melawan Allah, dan itu artinya dia menganggap bahwa Allah telah memberikan keputusan yang tidak tepat. Pasalnya, ketika koalisi itu terbentuk, maka kemauan Tuhan akan diukur dengan kesepakatan yang mereka hasilkan.
Kinerja kader dianggap sebagai kunci keberhasilan PKS kata Zulkiflimansyah. "Era sentimen agama telah berakhir" imbuhnya. Zul mungkin perlu diingatkan bahwa Allah mempunyai firman yang tertera pada surat al Baqarah ayat 120, "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka". Bagaimana PKS menyikapi ayat ini? Orang-orang kafir tidak akan pernah membuang sentimental mereka terhadap Islam. Lantas apa yang memicu kebanggaan PKS menyetarakan diri dengan PDIP yang isinya mayoritas kafir. Orang-orang dan kelompok semacam inilah yang di sebut pemberontak oleh Allah.PKS rupanya kurang siap berdiri gagah dengan identitasnya sendiri. Takut di sebut sebagai partai sekterian, mereka dengan lantang mengganti dasar dari partai Islam menjadi partai nasionalis. Mereka mencoba menghilangkan garis pembeda antara orang-orang yang teguh keislamannya dengan yang hanya sekadar Islam. Mencoba menyatukan mereka dalam satu partai. Penyatuan yang Rasulullah saja tidak bisa melakukannya. Keinginan menyatukan adalah kesombongan yang nabi saja tidak kuasa melakukannya, karena Allah telah menegaskan manusia beraneka ragam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar