Sebuah ironi sejarah di Tanah Haram, kembali ditorehkan dengan pisau dendam. Berbekal kepongahan, dan senjata kolektif yang mengerikan, dengan misi agresi genosida; zionis Israel meluluhlantakkan pemukiman penduduk Gaza. Kebiadaban zionis Israel ini, mengingatkan kita pada episode sejarah perang 6 hari melawan Mesir.
Pada tahun 1967, setelah mengalahkan Mesir, pasukan zionis memasuki kota Al-Quds dipimpin oleh Menhan Israel Moshe Dayan. Mereka berkumpul di bawah ‘Tembok Ratapan’ dan memekikkan dendam agama.
“Kemenangan hari ini adalah pelunasan dendam dari kekalahan perang Khaibar. Letakkan buah misymisy dan ambillah buah apel, agama Muhammad telah lewat dan pergi. Muhammad telah mati, dan hanya meninggalkan anak-anak perempuan.”
Kini, dendam Moshe Dayan ditumpahkan lagi oleh Trio pimpinan teroris zionis: Ehud Barak, Ehud Olmert, dan Tzpi Livi. Selama 22 hari menebar angkaramurka, sejak agresi keji 27 Desember 2008 dimulai, hingga pengumuman gencatan senjata sepihak 18 Januari 2009, rezim Israel laknatullah menjadikan Gaza, yang berpenduduk 1,4 juta jiwa itu, bagaikan kota mati. Ribuan Muslim Palestina mati dalam beberapa hari. Mereka membantai warga sipil, wanita, anak-anak, dan orang-orang lemah. Tujuannya, menciptakan situasi chaos agar kekuatan elemen bela negara putus asa, merasa membentur kekuatan digdaya bila harus konsisten melakukan perlawanan.
Akibat agresi keji Israel memang memilukan. Tentara zionis itu telah menewaskan lebih dari 1200 orang, termasuk 410 anak-anak. Jumlah korban cedera mencapai 6000 orang, dan 1.630 di antaranya anak-anak. Masjid-masjid dihancurkan. Rumah sakit, sekolah, perpustakaan, aliran listrik, air bersih, dan segala fasilitas umum dibumi hanguskan. Para wartawan, tenaga medis, relawan kemanusiaan, dijadikan sasaran pemboman. Biro Pusat Statistik Palestina mengumumkan 4.000 rumah hunian telah rata dengan tanah. Sekitar 10.000 warga kehilangan tempat tinggal dan bergantung pada pemberian makanan relawan kemanusiaan. Total kerugian materi ditaksir mencapai US$ 1,4 miliar dolar.
Sulit dipercaya, serbuan tentara zionis jahannam itu, selain menggunakan bom fospor, tank, jet tempur, dan senjata pemusnah masal lainnya. Juga, menggunakan anjing pelacak untuk memburu pejuang Hamas. Ketika anjing itu lapar, mereka mencari anak-anak dan menembaki mereka. Mayat anak-anak itu dijadikan makanan bagi anjing-anjing ini. Kemudian truk melindas mayat-mayat yang bergelimpangan dijalanan, yang mengganggu jalannya mesin perang mereka.
Zionis Israel tak pernah mau belajar, bahwa kekuatan militer tak akan mampu menghentikan gerakan jihad fi sabilillah. Dengan mengerahkan mesin perang yang serba canggih, rezim zionis ini berfikir akan dapat memusnahkan eksistensi Harakatul Muqawwamah Al-Islamiyah (Gerakan Perlawannan Islam) Palestina dengan mudah.
Sebelum menyerang Gaza, Menteri Luar Negeri agresor Israel, Tzipi Livni sesumbar. Berdasarkan prediksi pihak keamanan Israel, Hamas dapat diberantas hanya dalam tiga atau empat hari saja. Pimpinan Mossad Meir Dagan, bahkan memastikan, militer zionis dapat menghancurkan Hamas dan memaksa warga Jalur Gaza menyerah, hanya dalam sepekan.
Kenyataannya, tentara durjana itu hanya membual. Perlawanan heroik warga Palestina telah membuat keok dan membuyarkan segala angan-angan mereka. Kesombongan zionis itu, hanya mampu menghancurkan infrastruktur dan fasilitas sosial; bukan mengalahkan Hamas. Buktinya, setelah melihat tidak adanya kemungkinan untuk memenangkan perang, rezim zionis Israel di Tel Aviv secara pengecut mengumumkan gencatan senjata sepihak.
Bagi Hamas, yang sudah pengalaman menghadapi teror dan kelicikan Israel, gencatan senjata hanyalah tipu muslihat. Karena itu, dalam perang -yang oleh PM Ismail Haniyah, disebut ‘Perang Furqan’ (perang antara hak dan batil) ini-, seorang anggota senior Hamas Talal Nisar menyerukan: “Para mujahid tetap siaga di posisi masing-masing sampai pasukan dan tank-tank zionis keluar dari Gaza.”
Keberanian dan kegigihan Mujahidin Hamas membela agama dan kedaulatan negaranya, membuktikan bahwa umat Muhammad Saw masih hidup dan tidak bisa dikalahkan.
Bantuan Kezaliman
Semua kebiadaban Israel mendapat dukungan membabi buta dari Amerika dan sekutunya. Hal ini membuktikan kebenaran firman Allah, bahwa kaum yang zalim selamanya saling membantu melakukan kezaliman. “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan kejahatan yang mereka perbuat.” (Qs. Al-An’am, 6:129).
Penjahat perang Iraq, Presiden AS George Walker Bush, yang masa jabatannya berakhir 20 Januari 2009, mendorong pembantaian terus terjadi dengan mengirim ratusan ton senjata dan amunisi ke Israel. Bahkan Barack Husein Obama, presiden AS yang baru dilantik, mengisyaratkan tidak perlu menghukum Israel sebagai penjahat perang. ”Sekarang kita bicara bukan apa yang sudah dihancurkan, tapi rekonstruksi apa yang bisa dilakukan,” katanya dalam pidato pelantikannya.
Sikap pemerintah Mesir dan Yordania, yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, memuluskan konspirasi jahat ini, dengan tidak mengijinkan relawan kemanusiaan dan mujahid Islam masuk ke Gaza melalui pintu perbatasan wilayah negaranya. Sikap kerajaan Arab Saudi, idem dito. Tidak peduli terhadap jatuhnya ribuan korban Muslim di Palestina. Selama bertahun-tahun, Saudi Arabia termasuk negara konsumen peralatan militer terbesar di dunia. Tetapi menghadapi keganasan Israel, segala persenjataan itu seakan tidak berfungsi sekalipun saudaranya dianiaya di depan mata.
Sementara Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono, dan juga Menag Maftuh Basuni, terkait banyaknya warga Indonesia yang ingin berjihad ke Palestina, mengeluarkan pernyataan berbahaya. “Konflik Palestina tidak berkaitan dengan agama. Pilihlah cara-cara yang bisa menjadi bagian dari solusi, dan tidak sebaliknya malah menjadi masalah,” tegas SBY.
Menganggap agresi Israel ke Gaza bukan konflik agama, selain dapat berarti dukungan terhadap eksistensi Israel. Juga upaya halus dan sistematis melemahkan semangat jihad kaum Muslim dalam memerangi agresor zionis di Palestina. Sebab, di Palestina terdapat Masjid Al-Aqsha, tempat suci dan wilayah persinggahan Isra’ mi’raj Nabi Muhammad Saw. Mempertahankan kedaulatannya sama berharganya dengan mempertahankan Ka’bah di Makkah. Penguasa Muslim seharusnya menggerakkan pasukan, harta, dan kekuasaan yang dimiliki menyambut seruan Ilahy:
“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik lelaki, wanita-wanita, anak-anak yang semuanya berdo’a: ‘Ya Rab kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya, dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau.”(Qs. An-Nisa’, 75).
Pada tahun 1967, setelah mengalahkan Mesir, pasukan zionis memasuki kota Al-Quds dipimpin oleh Menhan Israel Moshe Dayan. Mereka berkumpul di bawah ‘Tembok Ratapan’ dan memekikkan dendam agama.
“Kemenangan hari ini adalah pelunasan dendam dari kekalahan perang Khaibar. Letakkan buah misymisy dan ambillah buah apel, agama Muhammad telah lewat dan pergi. Muhammad telah mati, dan hanya meninggalkan anak-anak perempuan.”
Kini, dendam Moshe Dayan ditumpahkan lagi oleh Trio pimpinan teroris zionis: Ehud Barak, Ehud Olmert, dan Tzpi Livi. Selama 22 hari menebar angkaramurka, sejak agresi keji 27 Desember 2008 dimulai, hingga pengumuman gencatan senjata sepihak 18 Januari 2009, rezim Israel laknatullah menjadikan Gaza, yang berpenduduk 1,4 juta jiwa itu, bagaikan kota mati. Ribuan Muslim Palestina mati dalam beberapa hari. Mereka membantai warga sipil, wanita, anak-anak, dan orang-orang lemah. Tujuannya, menciptakan situasi chaos agar kekuatan elemen bela negara putus asa, merasa membentur kekuatan digdaya bila harus konsisten melakukan perlawanan.
Akibat agresi keji Israel memang memilukan. Tentara zionis itu telah menewaskan lebih dari 1200 orang, termasuk 410 anak-anak. Jumlah korban cedera mencapai 6000 orang, dan 1.630 di antaranya anak-anak. Masjid-masjid dihancurkan. Rumah sakit, sekolah, perpustakaan, aliran listrik, air bersih, dan segala fasilitas umum dibumi hanguskan. Para wartawan, tenaga medis, relawan kemanusiaan, dijadikan sasaran pemboman. Biro Pusat Statistik Palestina mengumumkan 4.000 rumah hunian telah rata dengan tanah. Sekitar 10.000 warga kehilangan tempat tinggal dan bergantung pada pemberian makanan relawan kemanusiaan. Total kerugian materi ditaksir mencapai US$ 1,4 miliar dolar.
Sulit dipercaya, serbuan tentara zionis jahannam itu, selain menggunakan bom fospor, tank, jet tempur, dan senjata pemusnah masal lainnya. Juga, menggunakan anjing pelacak untuk memburu pejuang Hamas. Ketika anjing itu lapar, mereka mencari anak-anak dan menembaki mereka. Mayat anak-anak itu dijadikan makanan bagi anjing-anjing ini. Kemudian truk melindas mayat-mayat yang bergelimpangan dijalanan, yang mengganggu jalannya mesin perang mereka.
Zionis Israel tak pernah mau belajar, bahwa kekuatan militer tak akan mampu menghentikan gerakan jihad fi sabilillah. Dengan mengerahkan mesin perang yang serba canggih, rezim zionis ini berfikir akan dapat memusnahkan eksistensi Harakatul Muqawwamah Al-Islamiyah (Gerakan Perlawannan Islam) Palestina dengan mudah.
Sebelum menyerang Gaza, Menteri Luar Negeri agresor Israel, Tzipi Livni sesumbar. Berdasarkan prediksi pihak keamanan Israel, Hamas dapat diberantas hanya dalam tiga atau empat hari saja. Pimpinan Mossad Meir Dagan, bahkan memastikan, militer zionis dapat menghancurkan Hamas dan memaksa warga Jalur Gaza menyerah, hanya dalam sepekan.
Kenyataannya, tentara durjana itu hanya membual. Perlawanan heroik warga Palestina telah membuat keok dan membuyarkan segala angan-angan mereka. Kesombongan zionis itu, hanya mampu menghancurkan infrastruktur dan fasilitas sosial; bukan mengalahkan Hamas. Buktinya, setelah melihat tidak adanya kemungkinan untuk memenangkan perang, rezim zionis Israel di Tel Aviv secara pengecut mengumumkan gencatan senjata sepihak.
Bagi Hamas, yang sudah pengalaman menghadapi teror dan kelicikan Israel, gencatan senjata hanyalah tipu muslihat. Karena itu, dalam perang -yang oleh PM Ismail Haniyah, disebut ‘Perang Furqan’ (perang antara hak dan batil) ini-, seorang anggota senior Hamas Talal Nisar menyerukan: “Para mujahid tetap siaga di posisi masing-masing sampai pasukan dan tank-tank zionis keluar dari Gaza.”
Keberanian dan kegigihan Mujahidin Hamas membela agama dan kedaulatan negaranya, membuktikan bahwa umat Muhammad Saw masih hidup dan tidak bisa dikalahkan.
Bantuan Kezaliman
Semua kebiadaban Israel mendapat dukungan membabi buta dari Amerika dan sekutunya. Hal ini membuktikan kebenaran firman Allah, bahwa kaum yang zalim selamanya saling membantu melakukan kezaliman. “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan kejahatan yang mereka perbuat.” (Qs. Al-An’am, 6:129).
Penjahat perang Iraq, Presiden AS George Walker Bush, yang masa jabatannya berakhir 20 Januari 2009, mendorong pembantaian terus terjadi dengan mengirim ratusan ton senjata dan amunisi ke Israel. Bahkan Barack Husein Obama, presiden AS yang baru dilantik, mengisyaratkan tidak perlu menghukum Israel sebagai penjahat perang. ”Sekarang kita bicara bukan apa yang sudah dihancurkan, tapi rekonstruksi apa yang bisa dilakukan,” katanya dalam pidato pelantikannya.
Sikap pemerintah Mesir dan Yordania, yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, memuluskan konspirasi jahat ini, dengan tidak mengijinkan relawan kemanusiaan dan mujahid Islam masuk ke Gaza melalui pintu perbatasan wilayah negaranya. Sikap kerajaan Arab Saudi, idem dito. Tidak peduli terhadap jatuhnya ribuan korban Muslim di Palestina. Selama bertahun-tahun, Saudi Arabia termasuk negara konsumen peralatan militer terbesar di dunia. Tetapi menghadapi keganasan Israel, segala persenjataan itu seakan tidak berfungsi sekalipun saudaranya dianiaya di depan mata.
Sementara Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono, dan juga Menag Maftuh Basuni, terkait banyaknya warga Indonesia yang ingin berjihad ke Palestina, mengeluarkan pernyataan berbahaya. “Konflik Palestina tidak berkaitan dengan agama. Pilihlah cara-cara yang bisa menjadi bagian dari solusi, dan tidak sebaliknya malah menjadi masalah,” tegas SBY.
Menganggap agresi Israel ke Gaza bukan konflik agama, selain dapat berarti dukungan terhadap eksistensi Israel. Juga upaya halus dan sistematis melemahkan semangat jihad kaum Muslim dalam memerangi agresor zionis di Palestina. Sebab, di Palestina terdapat Masjid Al-Aqsha, tempat suci dan wilayah persinggahan Isra’ mi’raj Nabi Muhammad Saw. Mempertahankan kedaulatannya sama berharganya dengan mempertahankan Ka’bah di Makkah. Penguasa Muslim seharusnya menggerakkan pasukan, harta, dan kekuasaan yang dimiliki menyambut seruan Ilahy:
“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik lelaki, wanita-wanita, anak-anak yang semuanya berdo’a: ‘Ya Rab kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya, dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau.”(Qs. An-Nisa’, 75).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar